Rabu, 18 Maret 2009

Belum Maksimal Lindungi Korban


SEMARANG—Meski UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah diberlakukan, nyatanya belum mampu melindungi secara maksimal bagi korban tindak kekerasan. Ini dibuktikan masih tingginya angka kekerasan, terutama bagi perempuan.
Menurut konselor LRC-KJHAM Indira Hapsari, hal ini disebabkan banyak masyarakat yang belum memahami UU tersebut. Wanita yang akrab disapa Indi ini mencontohkan, kebanyakan korban masih merasa tabu untuk melaporkan kekerasan yang terjadi dalam rumah tangganya. Hal ini bisa dimaklumi, karena budaya patriarki yang begitu kuat di masyarakat kita.
“Namun kalau tidak selalu dilakukan sosialisasi dan kampanye, makin hari akan semakin bertambah korbannya,” ujar Indira Hapsari saat menjadi narasumber diskusi bertajuk “Pemulihan Psikologi bagi Perempuan Korban Kekerasan, Sebuah Studi Komparatif Indonesia-Jerman” yang digelar di Gedung Mikael Kampus Unika Soegijapranata kemarin (24/2).
Selain Indi, dalam diskusi ini juga menghadirkan pembicara Petra Hafele, aktivis perempuan asal Jerman, serta Lita Widya Hastuti, Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata.
Lebih lanjut Indi menjelaskan, beberapa kasus KDRT yang ditangani, korban semakin terancam. Bahkan, banyak yang mengarah pada pembunuhan. Pelakunya suami pada istri dan anaknya. Atau sebaliknya pelakunya seorang ibu yang membunuh anaknya dan suaminya.
“Selain kesadaran yang masih kurang, faktor ekonomi kerap menjadi pemicu utama KDRT,” ujarnya.
Sementara itu, Petra Hafele, aktivis perempuan counseling Center For Women, salah satu LSM Perempuan di Jerman mengungkapkan, kasus tindak kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Jerman selama ini berakhir dengan perceraian. Perempuan yang sudah 27 tahun menangani kasus kekerasan ini menjelaskan, di negaranya kasus kekerasan sangat brutal. Ia mencontohkan, sering ada pemukulan yang dilakukan seorang suami di ruang publik.
“Kenapa kekerasan rumah tangga selalu berakhir cerai? Karena di negara saya ada pemahaman bahwa kekerasan dalam hal apapun, tidak boleh dimaklumi. Sekali melakukan kekerasan dan diampuni, maka apabila keluarga bersatu lagi, suatu hari kekerasan akan terjadi lagi,” jelas perempuan asal Remscheid, salah satu kota di Jerman ini. (mg2/aro)

Doc. Radar Semarang

Rabu, 11 Maret 2009

Pameran Foto
Ketertindasan Perempuan dalam Dunia Kerja
Senin, 2 Maret 2009 | 13:33 WIB


Aku perempuan Beban tertindih retakkan raga Malam naikkan panas tubuh anakku Kubalurkan hawa dingin kulit ari ibu

Penggalan puisi milik Andarmosoko tersebut dibacakan secara lembut oleh Irene (28), aktivis Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), dalam pembukaan pameran foto "Ketika Perempuan Bertutur" di Rumah Seni Yaitu, Kota Semarang, pekan lalu.

Pameran berisikan 31 foto hasil dokumentasi LRC-KJHAM Semarang dalam rentang setahun terakhir tersebut mencoba memotret kondisi perempuan Indonesia masa kini, yang masih banyak mengalami ketertindasan.

Foto-foto yang ditampilkan hingga 15 Maret ini banyak memperlihatkan sepak terjang perempuan dalam keseharian mereka. Foto tersebut juga menyuguhkan fakta bahwa perempuan lebih banyak terjun dalam sektor kerja informal daripada sektor formal, seperti pedagang pasar, penyapu jalanan, kuli pasir, dan pembantu rumah tangga.

Direktur LRC-KJHAM Semarang Evarisan menuturkan, kondisi tersebut memperlihatkan adanya diskriminasi terhadap perempuan. "Sektor pekerjaan informal selalu didominasi oleh perempuan. Hal ini menunjukkan masih belum adanya penyamarataan bagi perempuan dalam memperoleh pekerjaan," ujarnya.

Pengajar filsafat di Fakultas Hukum Universitas Katolik Soegijapranata, Donny Danardono, mengatakan, tidak adanya penyamarataan kesempatan kerja bagi perempuan dalan sektor kerja informal berkaitan erat dengan biaya produksi perusahaan.

"Perempuan yang bekerja di sektor formal membutuhkan cuti hamil, yang memengaruhi produktivitas kerja. Hal tersebut tentu saja berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan perusahaan terhadap tenaga kerjanya," ujar Donny. (ILO)

Jumat, 06 Maret 2009


Home Metropolis Semarang Kepingan Fakta Perempuan
Kepingan Fakta Perempuan
Sabtu, 28 Februari 2009 00:00


TERKURUNG PERADABAN—Salah satu foto karya Jakob Hafele yang dipamerkan (SUMALI/RASE)
SEMARANG—Perjalanan panjang peradaban manusia selalu saja menyisakan ketimpangan dan diskriminasi. Dan, kaum perempuanlah yang selalu menjadi korban. Namun di tengah cengkeraman keadaan tersebut, banyak perempauan dengan kegigihan dan keteguhannya mencoba menerobos penghalang demi untuk sekadar survive.

Barangkali itulah yang coba diangkat Jakob Hafele, fotografer asal Jerman lewat kumpulan hasil jepretan kameranya. Foto-foto perempuan itu dipamerkan di Rumah Seni Yaitu bertajuk “Ketika Perempuan Bertutur.”

Pameran berlangsung mulai 25 Februari hingga 15 Maret mendatang. Koleksi foto yang dipamerkan umumnya dokumentasi kegiatan lembaga LRC- KJHAM Semarang, yang selama ini concern menangani isu-isu hak perempuan.

Jakob sebagai volounteer lembaga tersebut sekaligus fotografer ingin menampilkan kepingan fakta yang dihadapi oleh kaum hawa, khususnya di Semarang. Seperti foto berjudul “Penjual Kerupuk”. Dalam foto digambarkan seorang perempuan paroh baya duduk sambil menjajakan dagangan kerupuknya di trotoar. Dia tak gentar di bawah teriknya matahari.

“Setidaknya lewat foto itu saya ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah diskriminasi, kaum perempuan masih tetap bertahan dengan cara apapun,” jelasnya.

Lalu, bagaimana perempauan menyikapi situasi yang dihadapi? Jakob tidak ingin kehilangan jejak. Itu digambarkan lewat jepretan bertajuk “Perempuan Orasi.” Dalam foto itu tampak barisan perempuan sambil memegang megaphone. Mereka mengangkat kepal tangan, dan tampak penuh semangat menggugat perlakuan diskriminasi terhadap perempuan.

Pria asal Reimscied, salah satu kota di Jerman ini ingin menyebut bahwa situasi yang dialami perempuan sampai kapan pun tidak bisa berubah secara alamiah. Namun harus ada yang bicara. “Harus ada yang menyampaikan, dan perempuan harus merubahnya sendiri,” tandasnya. (mg2/aro)