Pameran Foto
Ketertindasan Perempuan dalam Dunia Kerja
Senin, 2 Maret 2009 | 13:33 WIB
Aku perempuan Beban tertindih retakkan raga Malam naikkan panas tubuh anakku Kubalurkan hawa dingin kulit ari ibu
Penggalan puisi milik Andarmosoko tersebut dibacakan secara lembut oleh Irene (28), aktivis Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), dalam pembukaan pameran foto "Ketika Perempuan Bertutur" di Rumah Seni Yaitu, Kota Semarang, pekan lalu.
Pameran berisikan 31 foto hasil dokumentasi LRC-KJHAM Semarang dalam rentang setahun terakhir tersebut mencoba memotret kondisi perempuan Indonesia masa kini, yang masih banyak mengalami ketertindasan.
Foto-foto yang ditampilkan hingga 15 Maret ini banyak memperlihatkan sepak terjang perempuan dalam keseharian mereka. Foto tersebut juga menyuguhkan fakta bahwa perempuan lebih banyak terjun dalam sektor kerja informal daripada sektor formal, seperti pedagang pasar, penyapu jalanan, kuli pasir, dan pembantu rumah tangga.
Direktur LRC-KJHAM Semarang Evarisan menuturkan, kondisi tersebut memperlihatkan adanya diskriminasi terhadap perempuan. "Sektor pekerjaan informal selalu didominasi oleh perempuan. Hal ini menunjukkan masih belum adanya penyamarataan bagi perempuan dalam memperoleh pekerjaan," ujarnya.
Pengajar filsafat di Fakultas Hukum Universitas Katolik Soegijapranata, Donny Danardono, mengatakan, tidak adanya penyamarataan kesempatan kerja bagi perempuan dalan sektor kerja informal berkaitan erat dengan biaya produksi perusahaan.
"Perempuan yang bekerja di sektor formal membutuhkan cuti hamil, yang memengaruhi produktivitas kerja. Hal tersebut tentu saja berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan perusahaan terhadap tenaga kerjanya," ujar Donny. (ILO)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar